Fungsi Petik Tunggal dan Petik Ganda

2. Fungsi Petik Tunggal dan Petik Ganda

Setelah memahami fungsi dan peletakan tanda baca titik dan koma pada penulisan narasi dan dialog karya sastra prosa modern jalur fiksi, sekarang kita akan mempelajari aturan pemakaian petik tunggal dan juga petik ganda. Untuk naskah fiksi, petik tunggal maupun ganda lebih sering digunakan pada penulisan dialog, sedangkan pada narasi fiksi keduanya jarang sekali difungsikan.

Sepasang petik ganda adalah format yang harus dipakai setiap kali hendak menulis dialog, baik dialog tag maupun yang bukan dialog tag. Bagi beberapa editor, dialog yang bukan dialog tag ini sering disebut dialog aksi, karena di dalamnya terdapat unsur kalimat aksi. Untuk mempelajarinya, perhatikan contoh berikut.

“Aku bersalah. Aku tak pantas tinggal di rumah ini lagi,” kata Kinal sambil menangis. Ia menyesal. Ia teringat masa-masa indah menjaga Rumah Kayu bersama Kana dan Kino.
“Kami sangat menyayangimu. Tak mungkin kami mengusirmu.” Kana berkata lembut. Kino ikut mendekati Kinal.
(dikutip dari Janji Bersama di Rumah Kayu, dongeng fabel karya Al-Mahfud, kontributor buku dongeng fabel jilid 3)

Dialog yang pertama adalah dialog tag, sedangkan yang kedua adalah contoh dialog aksi. Keduanya memakai sepasang petik ganda.
Sedangkan petik tunggal berfungsi untuk mengapit petikan yang berada di dalam petikan lain. Contoh:
“Aku bersalah. Saat Kino datang dan memarahiku dengan kalimat, ‘Mengapa kaubiarkan mereka memasuki rumah kita?’, seketika aku sadar, aku tak pantas tinggal di rumah ini lagi,” kata Kinal sambil menangis.

Itulah perbedaan fungsi sepasang petik ganda dan petik tunggal untuk penulisan dialog pada naskah fiksi. Pada postingan selanjutnya, kita akan membahas fungsi tanda hubung. Pastikan kamu mengikutinya dengan cermat, ya.

Leave a Reply