Fungsi Tanda Hubung
Dari penamaannya saja sudah bisa kita telaah bahwa tanda hubung berfungsi untuk menghubungkan. Pada karya sastra prosa modern jalur fiksi, tanda hubung sering dipakai untuk menghubungkan atau menyambungkan unsur kata ulang, baik itu di narasi maupun di dialog. Coba perhatikan narasi berikut.
.
Cempe bersiul-siul sambil berjalan meninggalkan Gaga. Gaga menunduk sedih. Perlahan ia berdiri dan memeriksa seluruh tubuh. Ia lecet di punggung dan telinga sebelah kanan. Badannya terasa pegal-pegal. Ia mendaki ke tempat rumpun soka berada. Saat Gaga sampai di atas, Cempe baru saja menemukan Beru. Kini, Gaga duduk di bawah pohon kelengkeng sambil menunggu Cempe dan Beru mencari tempat persembunyian Cocow.
(dikutip dari Ayo Bersyukur, Gaga!, dongeng fabel karya Anita Sari, kontributor buku dongeng fabel jilid 3)
.
Pada narasi sebelumnya ada unsur kata ulang bersiul-siul dan pegal-pegal. Seperti itulah aturan penulisan tanda hubung. Bentuknya garis pendek dan tidak diapit dua spasi, melainkan menempel pada kata yang berada di samping kanan dan kirinya. Selain di narasi, tanda hubung juga bisa difungsikan untuk penulisan dialog. Perhatikan dialog berikut.
.
Saat mengambil makanan, Semi pernah bertemu laba-laba. Dia bertanya pada laba-laba, “Hai, laba-laba, di mana kelompokmu? Kenapa kau sendiri di sarangmu?”
Laba-laba menjawab, “Aku tidak berkelompok sepertimu. Aku tidak mau ada laba-laba lain di sarangku.”
(dikutip dari Semi, si Semut Kecil, dongeng fabel karya Untari Kartika Yekti, kontributor buku dongeng fabel jilid 3)
.
Pada percakapan sebelumnya ada unsur kata ulang yaitu laba-laba. Aturan penulisan tetap sama, bentuk tanda hubung itu pendek dan tidak diapit dua spasi.
Itulah ulasan untuk penggunaan tanda hubung di narasi maupun dialog. Di postingan selanjutnya kita akan membahas tanda pisah. Wah, apa itu tanda pisah? Apakah suatu tanda baca yang berfungsi untuk memisahkan? Lalu, memisahkan apa? Kamu akan mendapatkan jawabannya di postingan selanjutnya.

