MENGENANG PENANGSANG

MENGENANG PENANGSANG

Semua bermula karena sejak kecil saya suka nonton ketoprak.

Waktu kelas 4 SD, ada rombongan ketoprak tobong yang menetap di desa saya. Tiap malam mereka mementaskan lakon-lakon cerita berlatar sejarah. Itulah pelajaran sejarah pertama yang sangat mengena di otak dan hati saya daripada yang tercatat dalam buku pelajaran sekolah.

Di antara lakon-lakon yang dipentaskan hingga larut malam itu, kisah Penangsang adalah yang paling membetot emosi saya.

Dalam panggung ketoprak, sosok Penangsang sebagai tokoh yang gila kekuasaan, sangat berangasan. Hatinya selalu panas dan jiwanya mudah marah. Sifat itulah yang kemudian menjadi penyebab kekalahannya, bahkan kematiannya.

Sementara Joko Tingkir digambarkan sosok pemimpin bijak dan berjiwa arif. Seorang tokoh yang kemudian menjadi pemenang dalam pertarungan merebut takhta Demak melawan Penangsang.

Pemeran Penangsang selalu melotot matanya, dengan riasan wajah merah menyala, keras tawanya, kasar ucapannya, berteriak membentak setiap berkata-kata. Sebuah pancaran wajah garang berikut kumis tebal lebat melintang.

Sedangkan pemain Joko Tingkir selalu teduh pandangannya, cerah bersinar wajahnya, senyumnya berwibawa, kata-katanya pelan dan dalam, lemah lembut perangainya.

Sebuah watak hitam putih yang diterjemahkan langsung dari penuturan Babad Tanah Jawi.

“Watakipoen arja penangsang sanget ing wanteripoen sarta panasbaran.”

Sifat Haryo Penangsang sangat mudah marah dan pemberang. Demikianlah babad sejarah Tanah Jawa itu menggambarkan sosoknya dalam salah satu bait.

Bermula dari fragmen ketoprak itulah, saya tertarik dengan Penangsang. Penasaran masa anak-anak itu terus menguntit hingga remaja, bahkan dewasa.

Hari ini, di hari kelahiran saya yang keempat ketemu empat, saya launching novel Penangsang sebage tanda syukur nikmat atas bahagianya nonton ketoprak yang tak bisa diulang, hanya bisa dikenang.

(Nassirun Purwokartun, penulis Penangsang)

Leave a Reply