Cerpen “PESAN DARI HARESHANANDA”

“KALAU saja kamu tidak menolongku, mungkin aku sudah mati,” kata Janadi kepada orang yang menyelamatkan nyawanya.
“Kebetulan saja aku berada di dekatmu. Sebagai sesama pendaki, sudah seharusnya kita saling tolong-menolong.”

“Perkenalkan, nama saya Janadi dari Banyumas,” ucap Janadi sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Orang itu membalas jabat tangan Janadi sekaligus memperkenalkan nama. Sebuah nama yang tidak akan dilupakan Janadi. Sampai kapan pun.

“Aku berutang budi kepadamu. Bahkan berutang nyawa. Jasamu tidak akan kulupakan. Aku punya janji yang akan kuwujudkan di masa depan. Aku berjanji bahwa ….”

Alarm ponsel terdengar keras, membangunkan Janadi dari tidur. Peristiwa 30 tahun silam baru saja hadir dalam mimpinya. Mimpi yang mengingatkan kembali pada seseorang yang sudah lama tidak dijumpa. Seseorang yang menolongnya saat hampir jatuh ke jurang. Kalau saja tidak ada orang tersebut, mungkin nama Janadi akan muncul di surat kabar keesokan harinya. Seorang Pendaki Tewas di Gunung Sumbing dalam Keadaan Mengenaskan, bisa jadi seperti itu judul beritanya.

Janadi pernah berusaha mencari keberadaan orang yang menyelamatkannya tersebut. Dulu pernah dia berkirim surat, tetapi surat terkirim kembali kepadanya karena yang punya alamat sudah pindah. Beberapa tahun belakangan, Janadi mencari nama tersebut di facebook, instagram, dan twitter. Akan tetapi orang yang dicarinya tidak juga ketemu. Sungguh dia ingin sekali bertemu orang itu, paling tidak untuk menceritakan bahwa janjinya telah ditunaikan.

Pagi yang cerah banyak dimanfaatkan orang untuk berjemur, begitulah kebiasaan baru yang menjadi trend saat pandemi ini. Janadi mengendarai mobil untuk menunaikan rutinitas takdir. Bekerja sebagai sopir taksi daring di Purwokerto, itulah kesibukan dia sekarang. Ketika bisnis peralatan outdoor-nya makin maju, dia memilih kesibukan lain. Kini toko-tokonya ada di beberapa kota. Manajer dan para karyawan betul-betul bisa diandalkan sehingga dia tidak lagi terlalu repot urusan bisnis. Mungkin inilah yang dinamakan bisnis autopilot. Bisnisnya jalan, pemilik bisnisnya jalan-jalan.

Menjadi sopir taksi daring sangatlah menghibur, begitu pikir Janadi. Bukan uang yang dicari, tetapi pengalaman bahkan ilmu. Janadi asyik mendengar percakapan dari para penumpang yang beragam. Dari berbagai profesi, latar belakang pendidikan, status sosial, dan ekonomi. Ada banyak sisi lain dari kehidupan yang bisa dia ketahui. Obrolan variatif dari berbagai sudut pandang menjadikan cakrawala berpikirnya lebih luas sehingga tidak mudah menghakimi seseorang. Setiap orang punya alasan untuk berbuat sesuatu. Hari ini beberapa penumpang di mobilnya masih membicarakan topik yang sama.

“Gara-gara kamu, sih, waktu tahun baru kemarin share kalender yang tanggalnya merah semua. Buat lucu-lucuan, tapi sekarang jadi beneran. Sekolah kita libur terus!”

“Kita disuruh di rumah 14 hari saja sudah mengeluh. Gimana, tuh, siput dan kura-kura yang seumur hidup di rumah terus?”

“Gemas sekali mengajari anak saya. Bawaannya marah-marah terus. Anak saya yang sekolah, kok, jadi saya yang repot?”

“Virus corona itu senjata biologis. Bukan negara yang menciptakan, tetapi elite global. Organisasi Kesehatan Dunia ataupun Bank Milik Dunia itu di bawah kendalinya elite global. Tujuannya bukan untuk dagang antivirus, itu terlalu receh. Melalui Organisasi Kesehatan Dunia, negara-negara disemprit untuk menetapkan status darurat. Dunia dibuat panik, ekonomi negara-negara akan hancur. Setelah colaps, negara tentunya butuh dana untuk memulihkan keadaan. Barulah Bank Milik Dunia datang sebagai dewa penolong yang akan memberikan pinjaman, dengan bunga tentunya.”

“Saya sudah tiga kali tidak Jumatan. Semoga Allah mengampuni dosa saya.”

“Tetangga saya dirawat di rumah sakit, bukan sakit karena Corona, tapi karena overdosis berita Corona.”

Begitulah obrolan dari penumpang di mobil Janadi pada hari ini. Kurang lebih sama dengan obrolan di hari-hari sebelumnya. Hari sudah sore, Janadi memutuskan kembali ke rumah. Sesampai di rumah, Janadi tak henti-henti memandang foto anaknya sewaktu wisuda. Ada kerinduan kepada anak semata wayangnya itu. Beberapa tahun lalu Mahawira Hareshananda berhasil lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Setelah mendapat gelar dokter, Mahawira melanjutkan pendidikan menjadi dokter spesialis paru-paru. Saat ini ia bertugas di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta yang banyak menangani pasien terinfeksi Covid-19.

Sudah beberapa hari ini Janadi tidak mendapat kabar dari anaknya. Berkali-kali dia mencoba menelepon, mengirim pesan whatsapp, dan juga SMS. Tidak ada respons ataupun balasan dari anak kesayangan. Janadi khawatir sekali, apalagi ramai diberitakan para dokter dan perawat ada yang terinfeksi corona; bahkan meninggal. Nomor telepon RSUP Persahabatan yang berhasil dia dapat dari Google sudah dicoba dihubungi berkali-kali, tetapi selalu sibuk. Beberapa nomor telepon teman-teman Mahawira, baik dokter ataupun perawat, juga tidak menjawab panggilannya. Janadi benar-benar khawatir. Dia duduk termenung di sofa depan televisi. Sementara itu televisi yang menyiarkan berita tentang corona di Jakarta tetap menyala, tanpa ada yang menonton.

Virus corona betul-betul mengganas. Pasien di rumah sakit RSUP Persahabatan bertambah setiap hari. Beberapa pasien mulai membaik, beberapa ada yang tidak bisa diselamatkan. Dokter dan perawat tidak bisa menghindar dari sergapan corona.

Seorang pasien laki-laki berada di sebuah kamar. Kondisinya kritis. Dia positif terinfeksi virus corona. Tubuhnya lemah, tangan diinfus, napas tersengal-sengal sehingga harus dibantu ventilator. Di tempat tidur pasien tersebut tertulis sebuah nama. Mahawira Hareshananda. Ya, itulah nama pasien tersebut.

“Senang bisa berkenalan denganmu. Kapan-kapan saya akan main ke Banyumas. Ini alamat saya. Kalau sudah sampai rumah, jangan lupa kirim surat. Semoga kita bisa ketemu lagi. Saya akan ingat janji kamu.”

Pasien itu membuka mata. Dia merasa cukup lama tertidur. Keadaannya sudah lebih baik dari beberapa hari sebelumnya. Napas terasa ringan. Mimpi mengingatkan pada seseorang yang terakhir ditemuinya 30 tahun lalu, sekaligus mengingatkan janji yang pernah diucapkan temannya itu. Dia mencoba membuka mata dan melihat sekeliling. Beberapa detik kemudian, dia baru sadar dia dirawat di rumah sakit. Perjalanannya beberapa minggu lalu ke Cina membuat dirinya terinfeksi Corona. Sebagai manajer dari perusahaan ekspor-impor, tentunya ke luar negeri bukanlah hal yang jarang dia lakukan.

“Alhamdulillah, Bapak sudah melewati masa kritis. Insyaallah sebentar lagi Bapak akan sehat kembali,” ucap seorang dokter yang menghampirinya.

“Terima kasih, Nak, sudah merawat dan mengobati saya,” ucap Mahawira kepada dokter itu.

Dia terbelalak setelah melihat nama yang tertulis di name-tag dokter itu. Lalu dia menanyakan sesuatu yang langsung dijawab anggukan. Seolah-olah tak percaya. Ada perasaan kagum sekaligus haru memenuhi dada.

“Ternyata dia benar-benar mewujudkan janji,” katanya dalam hati.

Sementara itu dokter tersebut tampak menangis melihat pasien lain yang tidak bisa diselamatkan. Apalagi pasien itu adalah rekannya sesama dokter.

Tidak ada angin, tidak ada hujan. Foto wisuda Mahawira terjatuh. Janadi mengambil foto figura anaknya sambil bertanya dalam hati. Pertanda apa ini? Dia melanjutkan perenungan di tempat tidur sampai terlelap.

Hari sudah pagi. Seperti biasa Janadi kembali menjalankan rutinitas, menjemput para penumpang. Sebelum berangkat, dia terkejut. Ada hal di luar dugaan yang dia lihat di gawainya. Hatinya sungguh bergetar setelah melihat foto yang dikirim melalui whatsapp, ada pesan singkat di bawahnya.

Janadi meneteskan air mata. Manusia memang hanya bisa berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan takdir manusia, Dia yang menentukan kapan sesuatu akan terjadi. Janadi kini duduk di sofa depan televisi. Ia baca berulang-ulang pesan itu, seolah-olah tak percaya dengan apa yang dia baca.

“Virus Corona merenggut banyak korban. Aku salah satunya. Alhamdulillah aku masih dapat selamat. Ada seorang dokter yang dengan sabar merawat, menyelamatkan nyawaku. Dia anakmu. Terima kasih telah memberi nama anakmu dengan nama yang sama denganku. Kamu benar-benar mewujudkan janji itu. Janji yang diikrarkan 30 tahun lalu. Ini fotoku bersama anakmu. Alhamdulillah kami sehat semua. Aku masih suka naik gunung dan menikmati alam. Mungkin kamu juga sudah tahu kalau kondisi bumi sekarang tambah membaik. Lubang ozon mulai tertutup, bumi mulai sehat kembali. Bagi bumi, mungkin manusia adalah virusnya, corona adalah obatnya. Tolong simpan nomorku. Dari sahabatmu. Mahawira Hareshananda.” (*)

Judul Cerpen : PESAN DARI HARESHANANDA
Penulis. : @indradefandra
Dimuat di Surat Kabar Radar Banyumas, 12 April 2020
========================
Penulis akan menjadi narasumber di kelas menulis cerpen angkatan 33. Kelas yang angkatan pertamanya diselenggarakan pada tahun 2018 ini sudah pernah diikuti oleh lebih dari 500 peserta dari dalam negeri maupun luar negeri. Bagi yang ingin mengikuti, silahkan baca keterangan lengkapnya di poster

Leave a Reply