Novel Sejarah Banyumas yang sarat dengan nilai Kultural edukatif yang berlatar di Negara Banyumas periode Adipati Mrapat. Ketika membaca maka kita akan dibawa ke dalam dimensi ruang dan waktu yang mengajak kita berpetualang bersama Widho dan Mas Janah Putra Joko Kaiman. Banyak istilah atau nama-nama yang mungkin jarang kita dengar, bahkan beberapa aktifitas leluhur kita di Banyumas yang dijelaskan dengan nalar bukan dari sudut pandang klenik semata. ( Mufid Majnun – Pemerhati Budaya Banyumas).

Terinspirasi oleh aktivitas Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M. Hum. yang dari tahun 1989 sampai tahun 2000 melakukan penelitian melacak jejak kapan mulai berdirinya negara Banyumas, saya tergelitik untuk meraba seperti apa ujud kehidupan masyarakat negara Banyumas mulai awal berdirinya sampai pada beberapa generasi penerusnya. Dengan berpijak pada catatan-catatan dari buku babad Banyumas saya kemudian melakukan kontemplasi. Hasil kontemplasi saya tulis menjadi ujud novel (Nasirin L. Sukarta).
Kumandhang Tembang Mrapat adalah novel yang mungkin bisa disejajarkan degan teks-teks Babad Banyumas yang juga ditulis dalam bentuk tembang macapat, yang versinya cukup banyak. Novel ini tidak dimaksudkan sebagai teks macapat meskipun disebut tembang. Tembang bersubtansi pesan moral dan nilai-nilai budaya Banyumas yang masih bertahan hingga masa kini. Novel ini berwarna lokal dengan mengadopsi cerita rakyat yang berkembang di Banyumas, khususnya di sekitar kota lama Banyumas. suatu kota yang banyak tidak dikenal, termasuk orang Banyumas sendiri. Nama Banyumas berasal dari nama sebuah sungai yang mengalir dari situs tua kadipaten Selarong. Sungai tersebut mengalir ke arah barat daya selarong yang kemudian bertemu dengan Sungai Pasinggangan. Ditempat pertemuan itulah, Kota Banyumas dibangun oleh Adipati Warga Utama II. (Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M. Hum.)
Judul : Kumandang Tembang Mrapat
Penulis : Nasirin Lebdoyono Sukarta
Cetakan : 2013
Tebal : xiv + 665 hlm
Ukuran : 14,5 x 21 cm
Penerbit : SIP Publishing
